02
Des
09

Sang Bangau yang Serakah

Disuatu daerah terdapat tempat yang sangat indah. Danau Genuk adalah sebuah danau yang sangat indah didaerah tersebut. Pemandangan di danau Genuk sangatlah indah dan elok dipandang mata. Bermacam-macam jenis hewan air dan ikan merasa nyaman dan tentram hidup di danau Genuk. Pada suatu hari datanglah penghuni baru. Penghuni baru itu adalah seekor burung bangau yang sering dipanggil dengan nama si burung bangau. Tak sengaja ia terbang diatas danau Genuk. Ia amat sangat terpesona akan keindahan danau tersebut. Dengan segera ia mendekati danau tersebut dan mulai menjalankan tipu muslihatnya. Di tepi danau tersebut ia mengambil sikap berdiri dengan satu kaki menghadap ke arah danau Genuk, seakan-akan si burung bangau menjadi seekor burung bangau pertapa yang telah meninggalkan semua nafsu dunianya.
Berhari-hari ia bersikap seperti itu tanpa bergerak sedikitpun dari tempat ia bertapa. Pada akhirnya, lama-kelamaan ikan-ikan yang hidup di danau itu menjadi heran terhadap si burung bangau dan mereka berusaha mendekati si burung bangau yang sedang bertapa. Tiga ekor ikan berusaha lewat didepan si burung bangau. Namun si burung bangau tidak berubah sedikit pun sikapnya terhadap tempatnya bertapa. Ia seolah-olah tidak mempunyai nafsu lagi untuk menikmati keindahan dunia ini. Akhirnya ikan-ikan yang hidup di danau tersebut tidak merasa takut lagi pada si burung bangau yang dikiranya akan memangsa diri mereka semua. Pada suatu hari, raja ikan bertanya kepada si burung bangau, “mengapa kau sedih wahai burung bangau?”.
Si burung bangau menjawab, “Oh wahai ikan yang baik, aku berbuat demikian karena atas kehendak dewa. Aku telah sadar atas perbuatanku yang telah berlalu, yang membuat diriku ini sangat berdosa besar dihadapan dewa-dewa. Karena itulah aku ingin menebus semua dosa-dosaku semua dengan petunjuknya dan mulai saat ini aku tidak akan memusuhi lagi segala makhluk yang ada di danau ini, termasuk kalian para ikan, apalagi sampai memakan kalian semua”. Para ikan pun sangat gembira mendengar kabar ini. Namun beberapa hari kemudian para ikan heran ketika melihat si burung bangau menangis lagi. Maka sang raja ikan bertanya lagi pada si burung bangau, “hai burung bangau, mengapa kamu menangis lagi?. Si burung bangau menjawab sambil terisak-isak sedih, “oh wahai para ikan, sangat sedihnya diriku ini”. “Mengapa demikian burung bangau?”, Tanya raja ikan lagi kepada si burung bangau.
Si burung bangau pun menjawab, “sebenarnya akan datang bencana yang sangat besar yang akan menimpa kita semua, bahwa sebentar lagi para nelayan akan mengadakan penangkapan ikan secara besar-besaran. Mereka telah mempersiapkan banyak pancing dan jala untuk menangkap semua ikan yang ada di danau ini. Oh para ikan hal itu yang kupikirkan selama ini, oleh karena itu aku hanya dapat berpesan, berhati-hatilah kalian semua. Aku sangat berdosa tidak dapat melindungi kalian dari bencana akibat dari keserakahan para nelayan itu”.
Mendengar berita dari si burung bangau, para ikan sangat sedih hatinya. Mereka saling bertangisan dan meratapi nasib buruk ini dihadapan si burung bangau. “oh wahai burung bangau, tidak dapatkah engkau memberikan pertolongan kepada kami agar terlepas dari bencana besar ini?”, Tanya si raja ikan kepada si burung bangau. Hmm…, wahai para ikan aku punya akal agar kalian bisa terbebas dari bencana besar ini, akan kupindahkan kalian semua satu persatu ke danau yang lain yang dekat dengan danau ini” jawab si burung bangau.
Karena rasa takut yang begitu besar terhadap bencana ini, maka para ikan mau dan bersedia diterbangkan satu persatu untuk dipindahkan ke danau yang lain. Akan tetapi si burung bangau tidak menerbangkan para ikan ketempat yang telah dijanjikan, melainkan diterbangkan menuju sarang si burung bangau untuk dijadikan makanan si burung bangau.
Di sarang si burung bangau dilahapnya para ikan-ikan tersebut. Demikian sampai semua ikan di danau Genuk habis. Hingga tersisa satu ekor ketam yang belum pindah dari danau, dan akhirnya si ketam diterbangkan ke danau yang telah dijanjikan si burung bangau. Namun, si burung bangau tidak menerbangkan si ketam ketempat yang telah dijanjikannya, tetapi dibawa kesarang si burung bangau. Si ketam pun melihat banyak sekali darah dan duri-duri ikan yang berserakan di sarang si burung bangau.
Si ketam pun akhirnya tahu bahwa dirinya akan dimangsa si burung bangau. Si ketam pun tidak mau bernasib sama dengan para ikan yang menjadi santapan si burung bangau. Ketika si burung bangau hendak memakannya, dengan sigapnya si ketam menjepit leher si burung bangau. Si burung bangau menggelepar-gelepar tidak berdaya. “lepaskan aku! lepaskan!” teriak si burung bangau dengan suara kencang. Si ketam pun semakin erat memperkuat jepitannya pada leher si burung bangau hingga pada akhirnya leher si burung bangau putus akibat jepitan yang sangat kuat oleh capit si ketam. Pada akhirnya si burung bangau mati di tangan si ketam akibat keserakahannya yang ingin memakan si ketam.


0 Responses to “Sang Bangau yang Serakah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: